Kabupaten Bogor - Pelayanan rumah sakit yang lamban sering dikeluhkan masyarakat, meliputi lambatnya penanganan UGD, antrean administrasi panjang, lambatnya pelayanan BPJS, hingga kurang responsifnya tenaga medis. Hal ini sering memicu kemarahan keluarga pasien dan dianggap tidak profesional. Keluhan ini sering terjadi pada pelayanan rawat inap maupun UGD.
Keterbatasan Tenaga Medis: Dokter seringkali praktik di lebih dari satu rumah sakit, menyebabkan penundaan tindakan medis kritis.
Kelalaian & Kurang Responsif: Perawat atau petugas kurang tanggap dalam merespons kebutuhan pasien, seperti lambat mengganti infus atau penanganan gawat darurat. Hal ini sangat berbahaya bagi keselamatan pasien menurut salah satu pihak keluarga yang sangat kecewa.
Pengolahan data yang belum terintegrasi atau masih manual memperlambat alur pelayanan. Fasilitas Kurang Memadai: Kurangnya tempat tidur atau ambulans sering membuat pasien harus menunggu lama untuk dirujuk.
Dampak Pelayanan Lamban:
Kondisi Pasien Memburuk: Keterlambatan penanganan medis, terutama pada kasus kritis, dapat berakibat fatal atau menyebabkan kematian. Ketidakpuasan Keluarga Pasien: Hal ini sering menimbulkan konflik antara pihak keluarga dan rumah sakit. Aduan keluarga pasien ke pihak media sering diterima dan menjadi catatan khusus bahwa selama 5 tahun lebih pelayanan RSUD Leuwiliyang tidak juga ada perbaikan.
Aduan yang diterima media dengan sulitnya mendapatkan kamar bukan kali ini saja. Tidak ada upaya untuk memperbaiki
Penggunaan sistem manajemen rumah sakit digital (software rumah sakit) dapat mempercepat proses administratif dan integrasi data, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi kesalahan manusia. Evaluasi internal oleh pihak rumah sakit juga diperlukan untuk memperbaiki kinerja perawat dan tenaga medis.
Dua Keluarga pasien satu rohanah dari parung singa- sipak Jasinga satu lagi dari gudawang - Cigudeg, Mereka hanya disuruh menunggu ruangan kosong saja dan hanya mendapatkan pertolongan pertama saja infusan tanpa ada penanganan dari Dokter spesialis, kami menunggu dari jam 12 sampai pagi tadi hampir sama jam masuknya beda satu jam saja, " Ujar keluarga pasien
Sa'at awak media menanyakan kepada Humas RSUD Leuwiliang Bogor Hesti ,Pasien rohana kasus ny TB paru WL ke 1 BG2
Dokter ny sedang visite di BG2
Mdh2an ada yg rencana pulang, " Ujarnya
Heti Humas Rs Leuwiliang: Karena diagnosa nya TB Paru jadi ruangannya harus diruangan khusus TB Paru, yaitu ruang Bougenville 2 yah
Kalau pasien masih di IGD untuk dokter penanggung jawab (dokter spesialis) memang cukup dikonsulkan saja oleh dokter jaga IGD tidak visit langsung ke pasien..setelah pindah ke ruangan ranap baru nanti divisi oleh dokter paru, " Jelasnya
Sa'at awak media pertanyakan terkait berapa dokter di spesialis Paru ada tiga pak, namun sistem di roling tiap hari dokter A lalu besok B dan lusasnya Si C jadi tetap untuk dokter setiap hari hanya satu dokter saja,
Bagai mana bisa mengatasi masalah pasien sebanyak ini, sampai harus nunggu berhari-hari.
Bahkan untuk pengurusan Administrasi saja harus muter-muter, di bikin rumit saja management RSUD Leuwiliang dari dulu tak pernah ada perubahan.
Masyarakat keluhkan hal ini terkait pelayanan publik. Apalagi transparansi sistem pengelolaannya.
Apakah tidak ada pengganti dokter di bagian paru contohnya , apalagi dokter tersebut membuka praktik di rumah sakit lain juga, bagaimana keadaan pasien yang saat itu betul-betul membutuhkan pertolongannya.. ?
Lambatnya penanganan pihak Rumah sakit bisa mengakibatkan kematian seseorang, karena tidak adanya inisiatif lain untuk memperbaiki perubahan dalam pelayanan kepada masyarakat.
Kami Berharap pihak RSUD Leuwiliang bisa bebenah untuk memperbaiki sistem pelayanan dan penanganan pelayanan yang baik kepada masyarakat kabupaten Bogor khususnya.
Red: Nofis dan Ata suharta


Social Header